Tuesday, 29 October 2013

Pluralisme Menyatukan Kita


Indonesia adalah  negara yang beragam yang  memiliki banyak macam suku, ras dan agama  yang punya cara dan waktu beribadah yang berbeda. Kalau tidak memiliki rasa toleransi hal ini sudah pasti akan menimbulkan keributan di lingkungan sekitar mereka tinggal. Konflik yang tak terelakkan. Akan tetapi, usaha pemerintah untuk mengumandangkan rasa toleransi atas kemajemukan Indonesia terus dilakukan.
Kalau masing-masing pemeluk agama tidak bisa bersikap toleran ke pemeluk agama lain tentu saja Indonesia akan jadi negara kacau, karena tidak ada perdamaian diantara masyarakatnya. Untuk menjaga kerukunan masyarakat majemuknya sekitar tahun 1970-an pemerintah Indonesia mencanangkan konsep Tri Kerukunan Umat Beragama, diantaranya kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Konsep ini tentu di canangkan pemerintah dengan bijak. Tujuannya adalah agar hak-hak kemanusiaan kita tidak berkurang sedikitpun dan hidup bersama dalam perbedaan.
Walaupun ada konsep kerukunan itu kalau kita sebagai masyarakatnya tidak bisa menerima dan mengamalkannya, tidak akan ada gunanya. Sebagai masyarakat majemuk kita harus bisa menerima kemajemukan Indonesia. Kita juga harus bisa memberikan dan menularkan sikap toleran kepada orang lain yang ada disekitar kita agar lingkungan majemuk ini bisa harmonis. Sikap toleran harus dimulai dari diri kita sendiri, tanpa dimulai dari diri kita maka akan sulit menularkannya pada orang lain.
Sikap toleran inilah yang akhirnya bisa menyatukan kemajukan di Indonesia. Dengan sikap toleran masyarakat akan bisa menghargai satu sama dan segala hal yang diyakininya. Perbedaan ras, suku, agama, budaya, dan bahasa membuat Indonesia menjadi sebuah negara yang unik. Keunikan di dalam kemajemukan. Dan kemajemukan inilah yang akhirnya mempersatukan Indonesia. 

Mari Kita Bangun Keharmonisan dengan saling Menghargai,Momentum di hari sumpah pemuda ini harusnya pemuda  memberikan kontribusi yang positif terhadap negara ini demi kemajuan bangsa. Memberikan dampak dan contoh yang baik. KITA SATU KITA INDONESIA!! 

Saturday, 26 October 2013

Pendidikan Papua Meningkat.


Great Job!! Otsu akhirnya bisa meningkatkan pendidikan Papua melalui tingkat kelulusan Ujian Nasional di tahun 2013 ini. Hal ini patut diberi apresiasi mengingat guru maupun sarana dan prasarana pendidikan masih terbatas. Oleh karena itu pemerintah menghimbau kepada mereka untuk jangan merasa puas diri dan terlena dengan keberhasilan saat ini. Masih banyak tantangan ke depan yang harus di hadapi. Terutama masih banyaknya oknum yang meragukan keberhasilan pendidikan di Papua ini. Tapi, beruntungnya pelajar Papua tidak gampang dijatuhkan, banyaknya oknum yang meragukan keberhasilan pendidikan di Papua justru menjadi semangat mereka dalam meningkatkan kualitas dan kemampuan.
Peningkatan pendidikan Papua ini telah membuktikan bahwa Otsu tidak gagal dan masyarakat tentu masih membutuhkannya untuk meningkatkan pembangunan. Terutama pembangunan taraf hidup masyarakatnya melalui pendidikan. Keterbatasan yang mereka hadapi bukanlah hal gampang untuk diterima. Tapi,  hal hebat yang patut di acungi jempol adalah usaha mereka untuk maju di tengah keterbatasan. Tapi, tidak cukup dengan di acungi jempol saja. Acung jempol sebagai apresiasi tanpa kompensasi sama saja tidak ada gunanya. Kompensasi ini tidak harus berupa uang. Bisa saja pemerintah mewujudkannya dalam bentuk tenaga pendidik atau guru maupun penambahan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat disana.
Masalah kurangnya tenaga pendidik atau guru benar-benar menjadi perhatian pemerintah Papua. Karena banyak tenaga pendidik yang maunya mendapat penempatan di kota. Mereka tidak betah di pedalaman. Alasannya karena transportasi susah, hidup di pedalaman itu susah. Padahal, untuk menjadi seorang guru itu diperlukan ketulusan. Tulus melayani masyarakat yang dalam hal ini adalah pelajar atau murid. Sesuai dengan sebutannya “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Siap mengabdi untuk masyarakat kapan dan dimana saja. Tapi itu sebatas sebutan saja sepertinya. Karena pada prakteknya, banyak diantara mereka yang mengeluhkan atau bahkan menolak penempatan di daerah pedalaman.

Tapi kerja keras pemerintah Papua tahun ini terbayar sudah dengan peningkatan kelulusan Ujian Nasional di kota maupun pedalaman. Peningkatan 95 % telah dicapai SMA/SMK di wilayah Kabupaten Jayapura, 100% untuk Kabupaten Supiori dan Kabupaten Waropen merupakan bukti bahwa Otsu belum gagal karena pemerintah tidak dapat memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat Papua.